SEJARAH PROSESI YANG MAHA SUCI KWAN IM HUD COUW

DUA BELAS TAHUNAN

 

Prosesi YMS Kwan Im Hud Couw 12 tahunan atau dikenal dengan Perayaan Arak-arakkan Gotong Toapekong biasanya disambut dengan sangat meriah oleh masyarakat Tangerang maupun umat Perkumpulan Boen Tek Bio Tangerang pada khususnya. Pengunjung yang menyaksikan perayaan ini tidak terbatas dari masyarakat Tangerang saja, tetapi juga berdatangan dari berbagai propinsi di Indonesia. Perayaan ini biasanya dilaksanakan setiap tahun shio Naga (liong) pada bulan 8 penanggalan Imlek (Pe Gwee). Perayaan kali ini (Sabtu, 6 Oktober 2012) merupakan yang ke-14 kalinya. Dalam Perayaan ini, jalan-jalan dipadati oleh ribuan bahkan puluhan ribu orang yang ingin menyaksikan jalannya Perayaan tersebut. Untuk kelancaran perjalanan tiga joli yang berisi kimsin Kongco Ka Lam Ya, kimsin Kongco Kwan Seng Tee Kun, dan kimsin YMS Kwan Im Hud Couw; permainan tarian liong mendahului bergerak di depan untuk membuka jalan. Dengan adanya liong ini maka secara otomatis penonton akan menyingkir karena takut terkena kepala atau ekornya liong. Karena menurut kisahnya liong ini memang bertugas sebagai pengawal YMS Kwan Im Hud Couw.

Kelenteng Boen Tek Bio diperkirakan berdiri pada tahun 1684. Jika tahun 2012 merupakan Perayaan yang ke-14, maka bila kita menghitung mundur Perayaan yang ke-1 jatuh pada tahun 1856. Namun, menurut kisahnya, Kelenteng Boen Tek Bio sebelum tahun 1844 masih merupakan rumah.Kemudian direnovasi secara besar-besaran terhadap Kelenteng Boen Tek Bio tersebut yang telah direncanakan pada tahun Naga (liong). Baik pekerja atau ahlinya pun didatangkan dari Tiongkok, sehingga kimsin yang dipuja seperti Dewi YMS Kwan Im Hud Couw, kimsin YS Kongco Ka Lam Ya, kimsin YS Kongco Hok Tek Ceng Sin, dan kimsin YS Kongco Kwan Seng Tee Kun dipindahkan sementara ke Kelenteng Boen San Bio.

Setelah renovasi Kelenteng Boen Tek Bio selesai pada tahun itu juga, kimsin-kimsin yang dipindahkan sementara di kelenteng Boen San Bio dikembalikan ke tempat semula pada bulan 8 penanggalan Imlek (Pe Gwee). Ketika perpindahan tersebut diiringi oleh masyarakat (umat) kelenteng Boen Tek Bio. Untuk memperingati perpindahan tersebut, maka arak-arakan Gotong Toapekong ke-1 jatuh pada tahun 1856. Perayaan ini menjadi tradisi masyarakat Tangerang pada umumnya dan umat Boen Tek Bio Tangerang khususnya. Tujuan arak-arakan itu adalah untuk menolak bala dan membersihan hawa jahat (kurang baik) supaya masyarakat aman, damai, dan sejahtera. Perayaan ini bukan sekedar tradisi saja, tetapi merupakan puncak penghargaan, penghormatan, dan rasa terima kasih dari umat Kelenteng Boen Tek Bio kepada YMS Kwan Im Hud Couw.

Seperti diketahui bahwa yang mempunyai kepercayaan kepada Dewi YMS Kwan Im Hud Couw, telah seringkali memperoleh dan mengalami pertolongan-Nya. Banyak kisah yang menceritakan tentang keajaiban YMS Kwan Im Hud Couw yang sudah terbukti, misalnya:

  1. Pada tahun 1883, Gunung Karakatau meletus terjadi banjir di kota Tangerang dimana-mana, tetapi Kelenteng Boen Tek Bio tidak kebanjiran.

  2. Kira-kira pertengahan tahun 1887, diwaktu tengah malam air sungai Cisadane yang mengalir dari daerah Bogor ke Tangerang telah meluap dengan sangat hebat sekali, sehingga menggenangi sebagian besar kota Tangerang setinggi lebih dari 1 meter. Banyak sekali hewan ternak yang mati dan penduduk yang tidak berdaya melihat harta bendanya terhanyut. Namun, sungguh ajaib, air tersebut mengalir ke sisi kiri dan kanan dari Kelenteng Boen Tek Bio, sehingga halaman luar maupun bagian dalam dari Kelenteng Boen Tek Bio tidak tergenang air. Penduduk Tangerang banyak yang berlindung di Kelenteng Boen Tek Bio pada saat peristiwa itu.Menyaksikan hal ini, maka kepercayaan masyarakat Tangerang dengan serta merta menjadi semakin tebal terhadap Kelenteng Boen Tek Bio.

  3. Pada waktu 1942, Jepang masuk kota Tangerang, jatuh dua buah bom mortir, yang satu di atas wuwungan Kelenteng Boen Tek Bio dan yang satunya lagi disamping belakang, tetapi bom itu tidak meledak.

  4. Pada pertengahan tahun 1947, secara tiba-tiba terjadi kebakaran yang hebat di tepi sungai Cisadane, sedangkan angin sedang bertiup dengan kencang ke arah kota Tangerang. Masyarakat Tangerang pada saat itu sangat cemas akan terjadi kebakaran besar-besaran kota Tangerang. Dalam ketakutan dan kebingungan beberapa orang telah datang dan bersujud dan berdoa dihadapan YMS Kwan Im Hud Couw memohon pertolongan supaya kebakaran itu tidak merajalela. Setelah beberapa orang itu selesai berdoa, mereka keluar dari Kelenteng Boen Tek Bio dan melihat bahwa api yang sedang merajalela dan angin yang sedang bertiup dengan kencang itu berangsur-angsur mereda dan berhenti sama sekali, sehingga terhindarlah kota Tangerang dari bahaya kebakaran total tersebut.

  5. Pada tahun dahulu dimana pengobatan dengan cara dokter (modern) masih sulit ditemukan, banyak penduduk Tangerang bahkan dari daerah lain yang memohon kepada YMS Kwan Im Hud Couw untuk disembuhkan dari penyakit yang diderita dengan melakukan ciam si (bilah-bilah bambu yang digunakan untuk memohon pertolongan), dalam hal ini yang dimaksud adalah ciam si obat dan hasil yang keluar dari ciam si tersebut disebut yo ciam (resep obat). Apabila yo ciam tersebut u pwee, maka obatnya dibeli di toko obat / sinshe.

Jika kita simak dari konsep agama Buddha, khususnya dari aliran Mahayana bahwa YMS Kwan Im Hud Couw adalah salah satu dari sekian banyak Bodhisatva (Buddha) yang sebenarnya telah mencapai Pintu Gerbang Nirwana (Kebahagian Yang Abadi). Di Pintu Gerbang Nirwana Beliau mendengar dan melihat banyak orang yang meminta pertolongan, kemudian memutuskan untuk tidak memasuki Nirwana karena memikirkan nasib umat manusia dan mahkluk lain didunia ini masih banyak yang menderita. Beliau bersumpah tidak akan masuk Nirwana sampai “rumputpun” telah memperoleh “pencerahan rohani“. Oleh karena “rumputpun“, akan tumbuh terus, maka sumpah Beliau pun berlanjut.

Rute perayaan yang dilaksanakan pada tahun 1964 adalah melalui jalan Cilangkap, kemudian belok ke kiri ke Jalan Cirarab, tembus sampai jalan Kisamaun, belok kanan Jalan A. Damyati, menaiki tanjakan Pasar Anyar, kemudian ke Jalan Kiasnawi, Jalan Kebon Jahe, Jalan Daan Mogot, dilanjutkan menyeberangi jembatan sungai Cisadane ke jalan Serang, belok kanan ke Jalan Pasar Baru (arah Mauk) dan beristirahat di Boen San Bio (Vihara Nimmala). Pada waktu kembali ke Kelenteng Boen Tek Bio adalah melalui Jalan Pasar Baru, Jalan Serang menyeberangi jembatan Cisadane, Jalan Kisamaun, masuk ke Jalan Cilame, dan Jalan Bhakti. Dua belas tahun kemudian, pada Perayaan tahun 1976 karena tidak mendapat ijin untuk sampai ke Boen San Bio (Vihara Nimmala), maka rute yang dilalui dipersingkat dengan melalui Jalan Cilangkap, Jalan Cirarab, Jalan Kisamaun sampai ke bundaran dekat pendopo Kabupaten, masuk ke Jalan Cilame, Jalan Bhakti dan selesai.